TRENDING NOW

Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme



 Sifat dasar manusia adalah menyukai pujian. Pujian memang diperlukan untuk peningkatan motivasi. Namun adakalanya pujian sangat membahayakan, jika pujian membuat kita menjadi lengah dan sombong. Segala puji milik Allah Tuhan penguasa alam (QS Alfatihah:2), artinya kita boleh saja menerima pujian (puji hadits 'alal hadits), tetapi kita harus menyadari bahwa segala pujian adalah milik Allah yang Maha Terpuji. Lantas, mengapa kita lebih menyukai sesuatu yang semestinya bukan milik kita? Sebaliknya, kritik atau nasihat adakalanya kita terima dengan kurang menyenangkan. Padahal, justru kritik dan nasihat itulah yang amat kita butuhkan untuk memperbaiki kualitas kita.

Teman sejati kita bukanlah orang yang selalu membahagiakan kita dengan taburan pujian, melainkan orang yang selalu menegur apabila kita khilaf, selalu mampu memberi kritik dan saran untuk perbaikan kita dan memberi semangat dalam hal kebaikan.

 Sebagian besar dari kita hanya menghargai pujian. Ketika orang lain berbicara dengan kata-kata yang baik, kita merasa bahagia. Ketika orang lain mengkritik, kita merasa sengsara. Namun, jika kita hanya menerima pujian dan sanjungan palsu, apalah kita akan mengalami kemajuan? Jika kita ingin meningkat dan berkembang kita harus mengundang hadirnya kritik konstruktif dan menghargai saran-saran mereka. Jika kritik destruktif itu Namanya MAIDO... :) :D

 لا تَصْحَبْ مَنْ لا يُنْهِضُكَ حالُهُ وَلا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقالُه (ابن عطاء الله السكندرى رحمه الله)

 Jangan berteman dengan orang yang "tingkah polahnya" tidak membuatmu semangat menuju--taat-- kepada Allah SWT serta ucapannya tidak menunjukkanmu --untuk lebih--"Mengenal" Allah SWT. (Ibnu 'Athaillah rhm)

 قال الإمام الشافعي رحمه الله: إذا كان لك صديق يعينك على الطاعة، فشدّ يديك به فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهل

 Imam syafi'i rhm. berkata: “Jika engkau punya teman - yg selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali”

 Lukman alhakim menasihati anaknya: Wahai anakku setelah kau mendapatkan keimanan pada Allah, maka carilah teman yg baik dan tulus. Perumpamaan teman yg baik seperti “pohon” jika kau duduk di bawahnya dia dpt menaungimu, jika kau mengambil buahnya dpt kau makan. Jika ia tak bermanfaat utk mu ia juga tak akan membahayakan-mu.

 ***

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنَّ اللهَ يَقولُ يَومَ القِيامَةِ : أينَ المُتَحابّونَ بِجَلالي ؟ اَليَومَ اُظِلُّهُم في ظِلّي يَومَ لا ظِلَّ إلّا ظِلّي

 Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat "berseru", ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim)

 قالَ الحسنُ البصْريّ رحمه الله: اسْتكْثِروا منَ الأصْدِقاءِ المُؤمنِين ؛ فإنّ لهُم شفَاعةً يومَ القيَامة

 Al-Hasan Al-Bashri rhm. berkata: “Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki Syafa'at pd hari kiamat”. IH (Intaha) Wallahu a'lam bish-shawab. Bawen, 25 Januari 2017 M Turabul aqdam (Tahta Filaya Firdaus Fadhlullah)

 *) Teks Gambar: Allahumma (u) rzuqna ash-shuhbata ash-shalihah (Ya Allah anugerahilah kami persahabatan yang baik)

 #TemanSejati #TemanBaik #Persahabatan
Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
Pengrtian Istidraj
خف من وجود إحسانه إليك ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك استدراجا لك { سَنَسْتَدْرِجهم مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ }

Takutlah kamu akan karunia Allah swt yang selalu kamu peroleh sedangkan kamu selalu melanggar perintah-NYA,jangan sampai karunia itu hanya semata-mata *ISTIDROJ atas dirimu.Firman Allah swt:........maka kami akan menarik mereka (sanastadri-juhum), secara berangsur angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang mereka tidak ketahui” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 182)
(Ibn 'atho-illah Assakandari rhm)


 *ISTIDROJ:Secara harfiah istidroj artinya adalah “menarik” atau mengulur. “istidraj” juga bermakna ia menipu dan ia merendahkannya”. Istilah ini dipakai dalam Al-Qur’an misalnya :
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat kami, maka kami akan menarik mereka (sanastadri-juhum), secara berangsur angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang mereka tidak ketahui” (Q.S. Al-A’roof [7] : 182)
Sedangkan secara istilah (terminologis) Ibnu Katsir rhm menjelaskan bahwa istidroj ialah Allah membukakan pintu rizqi dan berbagai sumber penghidupan lainnya sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya. Imam AlQurtubi rhm dalam Tafsir Jami’ Al-Ahkam berkata : ‘Add-Dhohhak rhm’ menafsirkan ayat Al-a’roof ayat 182 di atas bahwa “Setiap kali mereka menambah/membuat/memperbarui maksiat yg baru maka setiap itu Allah memperbarui / menambah / membuat nikmat kepada mereka”.Istidrojulloh al-'abda“(Allah mengIstidrojkan hambanya) memiliki arti bahwa setiap kali hambaNya berbuat kesalahan maka setiap kali itu juga Allah justru menambah nikmatNya.
Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zholim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (H.R. Muslim

Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
Rabi’ah al 'Adawiyah r.a

Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai


  • Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu


  • Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu


  • Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku


  • Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku


  • Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka

Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?

Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu


  • Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu


  • Andai cintaku
Di sisimu sesuai dengan apa
Yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna


  • Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia
Bahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu


  • Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?


  • Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa dengan-Mu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakan
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki


  • Ya Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala
yang telah menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya, Ya Allah
O Tuhan, inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku


  • Ya Allah
Aku berlindung pada Engkau
Dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau
Dan dari setiap hambatan
Yang akan menghalangi Engkau
Dari aku


  • Ya Illahi Rabbi
Malam telah berlalu
Dan siang datang menghampiri
Oh andaikan malam selalu datang
Tentu aku akan bahagia
Demi keagungan-Mu
Walau Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu
Aku akan tetap menanti di depannya
Karena hatiku telah terpaut pada-Mu


  • Tuhanku
Tenggelamkan diriku ke dalam lautan
Keikhlasan mencintai-M
Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku
Selain berdzikir kepada-Mu


Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.

JALAN

    Jalan sudah ditandai.
    Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
    Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
    kau melakukan perbuatan setan.

EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH

Empat orang diberi sekeping uang.

Pertama adalah orang Persia, ia berkata, "Aku akan membeli anggur."

Kedua adalah orang Arab, ia berkata, "Tidak, karena aku ingin inab."

Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, "Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum."

Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, "Aku ingin stafil."

Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.

Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, "Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu."

Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.

AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

    Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
    Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
    Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
    bukan Majusi, bukan Islam.
    Bukan dari Timur, maupun Barat.
    Bukan dari darat, maupun laut.
    Bukan dari Sumber Alam,
    bukan dari surga yang berputar,
    Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
    Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
    Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
    Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
    Bukan dari dunia kini atau akan datang:
    surga atau neraka;
    Bukan dari Adam, Hawa,
    taman Surgawi atau Firdaus;
    Tempatku tidak bertempat,
    jejakku tidak berjejak.
    Baik raga maupun jiwaku: semuanya
    adalah kehidupan Kekasihku ...

BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA

Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, "Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja." Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, "Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita."

DIMENSI LAIN

    Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
    tetapi dalam jenis yang berbeda.
    Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
    Ini tampak nyata,
    hanya untuk orang yang berbudi halus --
    mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.

MANFAAT PENGALAMAN

    Kebenaran yang agung ada pada kita
    Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
    Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
    Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
    Menjadi nyata.

KESADARAN

Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.

DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN

    Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
    Dia tidak di Salib.
    Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
    Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
    Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
    dan ke Kandahar Aku memandang.
    Dia tidak di dataran tinggi
    maupun dataran rendah. Dengan tegas,
    aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
    Di sana cuma ada tempat tinggal
    (legenda) burung Anqa.
    Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
    Dia tidak ada di sana.
    Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
    Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
    Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
    Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
    Dia tidak di tempat lain.

MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA

    Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
    Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.

JOHA DAN KEMATIAN

Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, "Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga..."

Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:

"Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!"

KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI

    Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
    Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?

REALITAS SEJATI

    Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
    Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.

JIWA MANUSIA

    Pergilah lebih tinggi -- Lihatlah Jiwa Manusia!

PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN

    Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
    kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
    Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
    bertahan di luar

KAU DAN AKU

    Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
    Dalam dua bentuk dan dua wajah -- dengan satu jiwa,
    Kau dan Aku.
    Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
    Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
    Bintang-bintang Surga keluar memandang kita --
    Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
    Kau dan Aku, dengan tiada 'Kau' atau 'Aku',
    akan menjadi satu melalui rasa kita;
    Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
    Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita --
    Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
    Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini ...
    Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan --
    Kau dan Aku.

DUA ALANG-ALANG

    Dua alang-alang minum dari satu sungai.
    Satunya palsu, lainnya tebu.

AKAN JADI APA DIRIKU?

    Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
    Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
    Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
    Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
    Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
    Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
    Kelak aku akan mati
    Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
    Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat --
    Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
    Aku akan menjadi itu.

RASUL

    Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
    Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
    Rasul adalah terpesona, takjub:
    Rasul adalah tidak makan maupun tidur
    Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
    Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
    Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
    Rasul adalah bukan dari api dan air.
    Rasul adalah laut tanpa pantai:
    Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
    Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
    Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
    Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
    Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
    Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
    Karena Rasul apakah ada 'dosa' atau 'kebaikan'?
    Rasul berangkat dari Ketiadaan:
    Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
    Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
    Carilah, dan temukan - Rasul!

KEBENARAN

    Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
    "Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
    Tidak di bumi, langit atau singgasana.
    Ini kepastian, wahai kekasih:
    Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
    Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini."

ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?

DEBU DI ATAS CERMIN

Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.

TINDAKAN DAN KATA-KATA

    Aku memberi orang-orang
    apa yang mereka inginkan.
    Aku membawakan sajak karena mereka
    menyukainya sebagai hiburan.
    Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
    Sudah lama aku mencari orang yang
    menginginkan tindakan, tetapi
    mereka semua ingin kata-kata.
    Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
    tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
    Maka aku hadirkan padamu -- kata-kata.
    Ketidakpedulian yang bodoh
    akhirnya membahayakan,
    Bagaimanapun hatinya satu denganmu.

KERJA

    Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
    Bukan sekadar sesuatu yang
    jika sedang berlangsung, kau
    dapat melihatnya dari luar.
    Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
    seperti anak-anak
    Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
    Mari kita tinggalkan dunia
    dan terbang ke surga,
    Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
    dan menuju ke kelompok Manusia.

RUMAH

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan."

Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.

BURUNG HANTU

    Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
    Burung hantu tidak dimasukkan sangkar

UPAYA

    Ikat dua burung bersama.
    Mereka tidak akan dapat terbang,
    kendati mereka tahu memiliki empat sayap.

PENCARIAN

    Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
    Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.

TUGAS INI

Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.

KOMUNITAS CINTA

    Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
    Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.

SEBUAH BUKU

Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.

TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI

    Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.

no image
Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka juga bergantung pada banyaknya stasiun yang sudah mereka singgahi. Pada setiap stasiun selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. angat sulit menceritakan pengalaman pada stasiun tertentu kepada mereka yang belum mencapai stasiun itu.

Dalam literatur tasawuf, stasiun itu disebut manzilah atau maqam. Pengalaman ruhani yang mereka rasakan disebut hal. Ada segelintir orang yang sudah mendekati stasiun terakhir. Mereka sudah sangat dekat dengan Tuhan, tujuan terakhir perja1anan mereka. Maqam mereka sangat tinggi di sisi Tuhan. Kelompok mereka disebut awliya', kekasih-kekasih Tuhan. Mereka telah dipenuhi cahaya Tuhan. Sekiranya kita menemukan mereka, kita akan berteriak seperti teriakan orang munafik pada Hari Akhir, "Tengoklah kami (sebentar saja) agar kami dapat memperoleh seberkas cahayamu" (QS 57:13).

Dalam kelompok awliya' juga terdapat derajat yang bermacam- macam. Yang paling rendah di antara mereka (tentu saja di antara orang-orang yang tinggi) disebut awtad, tiang-tiang pancang. Disebut demikian karena merekalah tiang-tiang yang menyangga kesejahteraan manusia di bumi, kerena kehadiran merekalah Tuhan menahan murka-Nya; Tuhan tidak menjatuhkan azab yang membinasakan umat manusia. lbnu Umar meriwayatkan hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah menolak bencana --karena kehadiran Muslim yang saleh-- dari seratus keluarga tetangganya." Kemudian ia membaca firman Allah, "Sekiranya Allah tidak menolakkan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya sudah hancurlah bumi ini" (QS 2: 251).

Penghulu para awliya' adalah quthb rabbani. Di antara quthb dan awtad ada abdal (artinya, para pengganti). Disebut demikian, kerena bila salah seorang di antara mereka meningggal, Allah menggantikannya dengan yang baru. "Bumi tidak pernah sepi dari mereka," ujar Rasulullah Saw., "Karena merekalah manusia mendapat curahan hujan, karena merekalah manusia ditolong" (Al-Durr Al-Mantsur, 1:765).

Abu Nu'aim dalam Hilyat Al-Awliya' meriwayatkan sabda Nabi Saw., "Karena merekalah Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan menolak bencana." Sabda ini terdengar begitu berat sehingga lbnu Mas'ud bertanya, "Apa maksud karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?"' Rasulullah Saw. bersabda, "Karena mereka berdoa kepada Allah supaya umat diperbanyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memohon agar para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan mereka. Mereka berdoa agar turun hujan, maka Allah turunkan hujan. Karena permohonan mereka, Allah menumbuhkan tanaman di bumi. Karena doa mereka, Allah menolakkan berbagai bencana." Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap bagian bumi, ada mereka. Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terimakasih khusus kepada mereka.

Kata Rasulullah Saw., "Mereka tidak mencapai kedudukan yang mulia itu karena banyak shalat atau banyak puasa." Sangat mengherankan; bukanah untuk menjadi awliya', kita harus menjalankan berbagai riyadhah atau suluk, yang tidak lain daripada sejumlah zikr, doa, dan ibadah-ibadah lainnya? Seperti kita semua, para sahabat heran. Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, fima adrakuha?" Beliau bersabda, "Bissakhai wan-Nashihati lil muslimin" (Dengan kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum Muslim). Dalam hadis lain, Nabi berkata, "Bishidqil wara', wa husnin niyyati, wa salamatil qalbi, wan-Nashihati li jami'il muslimin" (Dengan ketaatan yang tulus, kebaikan niat, kebersihan hati, dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim) (lihat Al-Durr Al-Mantsur, 1:767).

Jadi, yang mempercepat orang mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. bukanlah frekuensi shalat dan puasa. Bukankah semua ibadah itu hanyalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah, yang seringkali jauh lebih sedikit dari anugerah Allah kepada kita?

Yang sangat cepat mendekatkan diri kepada Allah, pertama, adalah al-sakha (kedermawanan). Berjalan menuju Allah berarti meninggalkan rumah kita yang sempit --keakuan kita. Keakuan ini tampak dengan jelas pada "aku" sebagai pusat perhatian. Seluruh gerak kita ditujukan untuk "aku". Kebahagian diukur dari sejauh mana sesuatu menjadi "milikku." Orang yang dermawan adalah orang yang telah meninggalkan "aku." Ia sudah bergeser ke falsafah "Untuk Dia".

Karena itu Nabi Saw. bersabda, "Orang dermawan dekat dengan manusia, dekat dengan Tuhan dan dekat dengan surga. Orang bakhil jauh dari manusia, jauh dari Tuhan dan dekat dengan neraka". Tanpa kedermawanan, shalat, shaum, haji dan ibadah apa pun tidak akan membawa orang dekat dengan Tuhan. Dengan kebakhilan, makin banyak orang melakukan ibadat makin jauh dia dari Tuhan. Orang dermawan sudah lama masuk dalam cahaya Tuhan, sebelum mereka masuk ke surganya. Kedermawanan telah membawanya dengan cepat ke stasiun-stasiun terakhir dalam perjalanannya menuju Tuhan.

Kedua, yang mengantarkan orang sampai kepada kedudukan abdal, adalah kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim. Kesetiaan yang tulus ditampakkan pada upaya untuk menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan, menghinakan, mencemooh atau memfitnah sesama Muslim. Di depan Ka'bah yang suci, Nabi Saw. berkata, "Engkau sangat mulia. Tetapi disisi Allah lebih mulia lagi kehormatan kaum Muslim. Haram kehormatan Muslim dirusakkan. Haram darahnya ditumpahkan."

Belum dinyatakan setia kepada Islam sebelum orang meninggalkan keakuannya. Banyak orang merasa berjuang untuk Islam, walaupun yang diperjuangkan adalah kepentingan akunya, kepentingan kelompoknya, kepentingan golongannya. Mereka memandang golongan yang lain harus disingkirkan, karena pahamnya tidak menyenangkan paham mereka. Mereka hanya mau menyumbang bila proyek itu dijalankan oleh golongannya. Mereka hanya mau mendengarkan pengajian bila pengajian itu diorganisasi atau dibimbing oleh orang-orang dari kelompoknya. Apa pun yang diperjuangkan tidak pernah bergeser dari keakuannya. Ia merasa Islam menang apabila kelompoknya menang. Ia merasa Islam terancam bila kepentingan golongannya terancam. Ia telah beragama, ia telah mukmin; tetapi agamanya masih berkutat dalam keakuannya.

An-nashihat lil muslimin (kesetiaan yang tulus kepada kaum Muslim) melepaskan keakuan seorang mukmin. Ia memberinya kejujuran dalam ketaatan, ketulusan niat, dan kebersihan hati. Ia juga yang mengantarkannya kepada kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena kedermawanan dan kecintaan kepada kaum Muslim, Anda juga dapat menjadi kekasih Tuhan.

Wahai hamba-hamba Allah, berangkatlah kalian menuju Tuhanmu. Percepatlah perjalanan kalian dengan kedermawanan dan kesetiaan yang tulus kepada seluruh kaum Muslim.[]



Help file produced by WebTwin (www.webtwin.com) HTML->WinHelp converter. This text does not appear in the registered version.
no image
Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu padamu, kau pasti menyalahgunakannya."

Mereka berkata, "Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami."

"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya -tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih. "Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.

Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.

Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.

Catatan

Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.

Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang suka mengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antara yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan, yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu alkimia Kristen. Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.

K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah
Gus Tahta Al Hafizh Blog Islamic Learning And Sufisme
Kalau ada satu keberuntungan bagi manusia dibanding dengan hewan, maka itu adalah bahwa manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah). Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan yang terutama sekali hati nurani. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.

            Orang-orang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenali diri dan Tuhannya.

            Karenanya, siapapun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan hati nuraninya, dia akan jahil, akan bodoh, baik dalam mengenal dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam mengenal Allah Azza wa Jalla, Zat yang telah menyempurnakan kejadiannya dan pula mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa ia lakukan terhadap dirinya sendiri.

            Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, tidak akan tahu indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka.

            Akibatnya, semua kalkulasi perbuatannya, tidak bisa tidak, hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang semata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat, jabatan, dan kedudukannya, ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Adapun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan kemana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiadanya.

            Sebagian besar orang ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali hati nuraninya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sadar, apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, hati nurani itu - berbeda dengan dunia - tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita hendaknya sadar bahwa hatilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini.

            Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apapun. Yang ada malah berat melangkah, sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, semua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.

            Datang saatnya melahirkan, apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan. Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang diujung maut. Ketika jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallaah, sang ibu malah tersenyum bahagia.

            Sang bayi yang masih merah itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal tangisnya di tengah malam buta membuat sang ibu terkurangkan jatah istirahatnya. Siang malam dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan sebentar-sebentar belepotan kotoran bayi. Cucian pun tambah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si jantung hati. Akan tetapi, Masya Allah, semua beban derita itu toh tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.

            Ketika tiba saatnya si buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya. Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu itu terjatuh atau menginjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak kurang-kurangnya menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua. Sungguh menjadi beban batin yang tidak ringan.

            Pendek kata, sewaktu kecil menjadi beban, sudah besar pun tak kurang menyusahkan. Begitu panjang rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah membuat durhaka, menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba saatnya mereka tua renta.

            Mengapa orang tua bisa sedemikian tahan untuk terus menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena, keduanya mempunyai hati nurani, yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari anak-anaknya, namun nurani yang memiliki kasih sayang inilah yang memuatnya tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban.

            Oleh karena itu, beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak, akan tetapi yang harus selalu kita jaga dan rawat sesungguhnya adalah kekayaan batin kita berupa hati nurani ini. Hati nurani yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya hati nurani menjadi redup. Karena, tidak bisa tidak, akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin lantaran senantiasa merasa terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.

            Allah Mahatahu akan segala lintasan hati. Dia menciptakan manusia beserta segala isinya ini dari unsur tanah; dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah cukup dengan berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang ternyata sumbernya dari tanah pula.

            Bila perut terasa lapar, maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bila ditelusuri, ternyata unsur-unsurnya terbuat dari tanah. Demikian pun bila suatu ketika tubuh kita menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala keperluan tubuh, kita mencarikan jawabannya dari tanah.

            Akan tetapi, qolbu ini ternyata tidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga hanya akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. "Alaa bizikrillaahi tathmainul quluub." (QS. Ar Rad [13] : 28). Camkan, hatimu hanya akan menjadi tentram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah!

            Kita akan banyak mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik ita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk qolbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur duniawi, tetapi qolbu atau hati nurani kita tetap tertambat kepada Zat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh sibuk dengan urusan dunia, tetapi hati harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah sebenarnya yang paling harus kita lakukan.

            Sekali kta salah dalam mengelola hati – tubuh dan hati sama-sama sibuk dengan urusan dunia – kita pun akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut terjegal, dan seterusnya. Ini semua diakibatkan oleh sibuknya seluruh jasmani dan rohani kita dngan urusan dunia semata.

Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya hati nurani. Kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini.

            Bagaimana caranya agar kita mampu senantiasa membuat hati nurani ini tetap bercahaya? Secara umum solusinya adalah sebagaimana yang diungkapkan di atas : kita harus senantiasa berjuang sekuat-kuatnya agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat Allah. Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita, lalu kenali apa arti hidup ini. Dan semua ini bergantung kecermatan kepada ilmu. Kemudian gigihlah untuk melatih diri mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimiliki dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu memilih lingkungan orang yang baik, orang-orang yang shalih. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi jalan bagi kita untuk dapat lebih mengenal Allah, Zat yang telah menciptakan dan mengurus kita. Dialah satu-satunya Zat Maha Pembolak-balik hati, yang sama sekali tidak sesulit bagi-Nya untuk membalikan hati yang redup dan kusam menjadi terang benderang dengan cahaya-Nya. Wallahu’alam.